Sadar atau tak sadar menanam pohon apapun itu adalah salah satu bentuk ekspresi manusia akan kasih sayang. Percaya gak….?
Mari kita merenung sejenak..
Terkadang kita tak menyadari ketika suatu hari kita melihat sebuah biji dari tanaman, cabe atau tomat misalkan, yang terbuang begitu saja, lalu tumbuh dan bisa berbuah. Mungkin kondisi ini akan sulit anda temui manakala anda berdomisili di Kota, namun akan sangat mudah anda temui manakala anda berada di Desa atau setidaknya di pinggiran Kota.
Bayangkan, sebuah biji tanaman, yang terkadang begitu sepele di pikiran kita, atau bahkan tidak pernah terpikirkan, karena kita seringkali membuang begitu saja tanpa kita sadari. Padahal, ingat… Sebuah biji sama dengan sebuah atau seekor atau seorang mahluk hidup yang itu butuh sarana untuk hidup dan berkembang.
Jika kita perlakukan sebuah biji tanaman dengan menanam dan ditempatkan di lahan kita (bisa di tanah, pot atau apa saja tempat yang memungkinkan biji itu bisa tumbuh dengan baik), maka biji tanaman itu akan tumbuh dengan baik dan akan memberi manfaat bagi kita.
Dari satu biji bisa menjadi puluhan atau bahkan ratusan biji. Tetapi kalau dari satu biji atau bahkan ratusan biji itu kemudian kita cuekin, maka kita akan kehilangan ribuan bahkan berjuta-juta biji. Percaya gak?
Mari kita pikirkan bersama…
Dahulu… Bapak-bapak kita, nenek-nenek kita sehabis makan buah atau apa saja dari tumbuhan yang ada bijinya, beliau-beliau kemudian tidak begitu saja membuangnya di tempat sampah yang kemudian di bakar, Tetapi bijinya dipisahkan sendiri meski kemudian dibuang, namun dibuangnya di tempat yang memungkinkan biji itu bisa tumbuh, lalu berkembang dan berbuah lagi. Begitu terus sampai ibarat lahanya penuh dengan tanaman-tanaman, yang kemudian beliau-beliau dan keluarganya tidak perlu lagi mencari dan membeli buah-buah dan tanama-tanaman di pasaran.
Bagaimana dengan kita…?
coba lihat …
Kemarin, ketika kami mencari bibit biji-biji sayuran serta palawija dan buah-buah lokal di pasaran, ternyata hari gini sangat sulit untuk menemukan bibit tanaman lokal tersebut. Dari pedagang sayuran dan buah-buah lesehan kami tanya, sampai pada pedagang bibit super di toko khusus bibit, tapi tak ada hasil yang kami cari. Ada banyak macam dan jenis bibit tanaman sebenarnya, tapi semuanya hibrida, alias “yang lokal sudah tidak ada dan tidak jamannya” kata pedagang-pedangang itu.
Wwwaaddduuh… Sontak kami kecewa karenanya, “cabe lokal, terong lokal, tomat lokal, timun lokal, jagung lokal, dan lain-lain yang serba lokal semuanya sudah basi”. “Sekarang jamannya bibit hibrida yang sudah pasti baik dan banyak hasilnya”, katanya… Duuh, kenapa hampir semua pedagang di pasaran bilang begitu ya, padahal dulu mereka juga jualan yang serba lokal?
Kemudian kami mencoba menelusuri Kampung-Kampung untuk mencari bibit tanaman sayuran dan palawija lokal, dan ternyata di Kampung-Kampung itu pun sangat sulit kutemukan. Orang-orang kampung dan petani-petani sekarang sudah terbius dan tergandrungi oleh tanaman hibrida, yang katanya lebih bagus dan lebih banyak hasilnya.
Harga benih hibrida jauh lebih mahal dari pada yang lokal, dan benih hibrida hanya mampu ditanam untuk satu kali masa penanaman, jika biji dari hasil tanaman hibrida di tanam lagi kemugkinan besar tidak dapat tumbuh dan atau kalau bisa tumbuhpun hasilnya kurang maksinmal.
Tetapi mengapa benih hibrida malah menjadi kiblat oleh para petani-peani kita?
Sekarang petani-petani kita sudah sangat ketergantungan dengan benih hibrida, apapun itu: dari padi, sayuran, palawija bahkan sampai pada buah-buahan.
Terus bagaimana dengan tanaman lokal yang dulu banyak tumbuh di ladang-ladang itu?
Kenapa sekarang semuanya sudah hilang?
Kami ingin tanaman-tanaman itu balik lagi di ladang-ladang bapak-bapak kami, bagaimana caranya…?