suatu hari tetanggaku datang ke rumah.. dengan menggendong anak bungsunya dan tergopoh-gopoh bicara di depanku, minta tolong dipinjemi uang dua puluh ribu rupiah. sebut saja yem namanya… dia, sambil menyeka air matanya dan juga air mata anaknya bercerita kepadaku tentang suaminya yang sudah empat hari tidak pulang ke rumah.
suaminya (sebut saja Dur) yang bekerja sebagai pengeruk pasir di kali lukulo, yang biasa pergi pagi pulang malam, sudah empat hari ini tidak pulang. yem terlihat sangat bingung dan kuatir, karena selama ini suaminya tak pernah demikian.
Yem sangat takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada suaminya (Dur), karena menurut cerita Dur kepada yem sesaat sebelum berangkat, lahan kerjanya sudah mau ditutup karena tebing sungai sudah terkeruk habis dan hampir saja ambruk.
mengingat cerita Dur, yem semakin takut dan kontan dia menjerit di depanku, sambil menggendong anak bungsunya yang kemudian juga disusul oleh kedua anaknya yang lain, mereka saling bertangisan.
sambil terus menyeka air mata dan sesekali tersengal oleh isakan tangis, yem masih saja bercerita tentang suaminya, tentang kondisi keluarganya yang hanya menumpu pada suaminya. keluh yem, “jika suamiku mati lalu bagaimana nasib keluargaku mbak.. bagaimana nasib ketiga anakku ini mbak..,?”
melihat adegan itu aku sangat terenyuh. tapi apa yang bisa aku lakukan untuk yu yem? tanyaku kepada yem… “aku butuh uang duapuluh ribu rupiah untuk modal mencari suamiku mbak” jawab yem. ya, ya, tapi kemana yu yem mau nyari kang Dur? ini hari sudah hampir malam yu, bagaimana kalau besok pagi saja saya temani? tanya saya. tidak mbak, “mending saya berangkat sama pak Yono sekarang juga” jawab yem.
malam itu juga yem berangkat mencari suaminya, dengan sambil menggendong man (anak bungsunya), sedang Yono (tetangga sebelahnya) memboncengkan yem ke tempat suaminya bekerja, yakni di pinggir kali lukulo.
sampai hampir tengah malam yem tak kunjung menemukan suaminya, yem kesana-kemari bertanya dan mencari informasi pada warga sekitar kali lukulo, tapi mereka tak ada yang tahu keberadaan Dur, setahu warga, mereka pernah melihat Dur 3 hari yang lalu mengikuti truk pembawa pasir ke daerah penambangan, yakni kurang lebih 50 km dari tempat kerjanya.
yem agak lega sedikit, karena ketakutan suaminya akan tertimbun pasir di tepi sungai sudah sedikit terjawab, “suamiku ikut truk ke penambangan”, gumam yem. Yem mencoba meyakinkan hatinya kalau Ngus masih hidup, kemudian ia meminta Yono untuk pulang ke rumah.
sesampainya di rumah, yem disambut oleh kedua anaknya, mereka buru-buru bertanya, “mana bapak mak?” sambil mengelus kepala kedua anaknya ijah menjawab lirih, “mak belum menemukan bapak nak, tapi tenang saja ya, bapak baik-baik saja, bapak lagi ke penambangan mengantar pasir, sekarang kalian tidur ya”.
kemudian, dari belakang Yono menghampiri ijah, aku pamit dulu yu”, “sebentar kang” jawab ijah sambil merogoh sakunya, “ini uang sedikit untuk pengganti bensin kang, terima kasih banyak ya saya sudah dianter”. dengan tangan cekatan Yono menyambar uang dua puluh ribuan dari tangan ijah, dan berkata “sama-sama”, lalu buru-buru pergi meninggalkan Yem…
sementara di rumah, ijah tak bisa tidur karena selalu membayangkan nasib suaminya, dalam hatinya dia berbisik, “pulanglah kang, aku dan anak-anak kita menghawatirkanmu, pulanglah… meski kamu tak bawa uang, aku rela kang, yang penting kamu selamat. sesekali ijah tersengguk oleh tangisannya.
tak terasa pagi mulai beranjak, ijahpun bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk ke tiga anaknya. sontak ijah tersadar bahwa persediaan berasnya sudah habis, sementara ijah juga tak pegang uang serupiahpun. “Ya Tuhan… beras habis uang tak punya, bagaimana dengan makan anak-anaku nanti?” “aku rela kelaparan, tapi aku tak mau kalau anakku yang kelaparan”, gumam ijah.